Duo Menel
Patung Welkom 3183
Senin, 26 Oktober 2009
Kamis, 17 September 2009
TIDAK MERASA MEMILIKI HARTA
“Kemarin ada orang yang dating ke kampung saya memberikan 200 buah sarung dan 200 mukena untuk fakir miskin”
O, itu tho? Ya, Alhamdulillah kalau ada orang yang dermawan seperti itu.
“bukan itu saja, Mat!” kata sarto lagi, “bersamaan dengan itu pula ia menyumbang empat ribu bibit pohon mangga ke kampung sebelah.”
“Alhamdulillah,” seru Mat Kacong, “ia tentu orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”
“Tidak itu saja,” ujar Sarto lagi, “tiga hari yan lalu orang itu telah membagikan empat puluh ekor kambing di kampung yang lain untuk meningkatkan harkat kehidupan masyarakat yang tidak mampu. Saya tidak habis pikir, benar-benar tidak habis pikir.”
“Jangan hanya bilang tidak habis pikir, ucapan itu tidak ada gunanya. Ucapkan saja Alhamdulillah, itu artinya, sambil takjub kepada seseorang kamu juga berzikir kepada Allah. Aku senang mendengar berita yang sangat menggembirakan itu. Maha Suci Allah yang telah memberi iman kepada dermawan yang kau sebut itu, emannya ia buktikan dengan sedekah. Semoga ia menjadi kekasih Allah.”
“infak yang banyak ia taburkan ke mana-mana menunjukan ia memang orang yang kaya.”
“Barangkali ia sudah tidak merasa kaya,” komentar Mat Kacong.
“Kalau tidak kaya, mana mungkin ia membagikan sedekah sebanyak itu, Mat?”
“Sobat, hendaknya kamu tahu! Orang kaya yang dermawan tidak pernah merasa memiliki harta. Ia hanya merasa ‘pengurus’ harta dan kekayaan Allah untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang lemah yang sangat membutuhkannya.”
27 Ramadhan 1430H / Dikutip dari Sate Rohani dari Madura – D. Zawawi Imron.
O, itu tho? Ya, Alhamdulillah kalau ada orang yang dermawan seperti itu.
“bukan itu saja, Mat!” kata sarto lagi, “bersamaan dengan itu pula ia menyumbang empat ribu bibit pohon mangga ke kampung sebelah.”
“Alhamdulillah,” seru Mat Kacong, “ia tentu orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”
“Tidak itu saja,” ujar Sarto lagi, “tiga hari yan lalu orang itu telah membagikan empat puluh ekor kambing di kampung yang lain untuk meningkatkan harkat kehidupan masyarakat yang tidak mampu. Saya tidak habis pikir, benar-benar tidak habis pikir.”
“Jangan hanya bilang tidak habis pikir, ucapan itu tidak ada gunanya. Ucapkan saja Alhamdulillah, itu artinya, sambil takjub kepada seseorang kamu juga berzikir kepada Allah. Aku senang mendengar berita yang sangat menggembirakan itu. Maha Suci Allah yang telah memberi iman kepada dermawan yang kau sebut itu, emannya ia buktikan dengan sedekah. Semoga ia menjadi kekasih Allah.”
“infak yang banyak ia taburkan ke mana-mana menunjukan ia memang orang yang kaya.”
“Barangkali ia sudah tidak merasa kaya,” komentar Mat Kacong.
“Kalau tidak kaya, mana mungkin ia membagikan sedekah sebanyak itu, Mat?”
“Sobat, hendaknya kamu tahu! Orang kaya yang dermawan tidak pernah merasa memiliki harta. Ia hanya merasa ‘pengurus’ harta dan kekayaan Allah untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang lemah yang sangat membutuhkannya.”
27 Ramadhan 1430H / Dikutip dari Sate Rohani dari Madura – D. Zawawi Imron.
Label:
27 Ramadhan 1430 H
Rabu, 16 September 2009
MERENDAHKAN DIRI
Manusia boleh ingin jadi dokter, jadi insinyur, para pria ingin mengawini peragawati, para wanita ingin jadi seperti peragawati, atau apa saya. Tapi malaikat, pekerjaannya cuma satu. Yakni mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah kepadanya.
Karena itu, malaikat suci bukan buatan. Bahkan mereka hanya memiliki kesucian. Malaikat yang mana saja. Baik Malaikat yang, katanya besarnya ribuan kali alam semesta. Yang terbuat dari salju. Yang lembut seperseribu tepung terigu. Atau Malaikat yang tak tergambarkan oleh konsep tiga dimensi yang dimengerti oleh manusia.
Tapi kenapa mahluk manusia ditentukan oleh Allah lebih tinggi daripada Malaikat? Kenapa para mahluk suci itu harus sujud kepada Adam?
Tentulah karena manusia diberi tangan kemungkinan, diberi peluang untuk memperjuangkan diri menuju puncak kapasitasnya dihadapan Allah dibanding Malaikat. Apalagi dibanding iblis.
Salah satu nilai kemanusiaan yang sering kita anggap luhur adalah merendahkan diri. Betul-betul merendahkan diri. Kalau kita melakukan keburukan, kita bilang, “lho, saya kan bukan Malaikat!” Kita melakukan kelicikan atau kekejaman, dalam skala personal maupun sistemik, dan itu kita sebut manusiawi. Seringkali bahkan kita gagal memelihara standar kemanusiaan, terpeleset ke perilaku kebinatangan. Dan kita menghibur diri – “Toh saya bukan Malaikat”.
Padahal kita bisa lebih tinggi derajatnya dari Malaikat.
Padahal merendahkan diri tidaklah sama dengan tawadhu’ (rendah hati).
26 Ramadhan 1430H
Karena itu, malaikat suci bukan buatan. Bahkan mereka hanya memiliki kesucian. Malaikat yang mana saja. Baik Malaikat yang, katanya besarnya ribuan kali alam semesta. Yang terbuat dari salju. Yang lembut seperseribu tepung terigu. Atau Malaikat yang tak tergambarkan oleh konsep tiga dimensi yang dimengerti oleh manusia.
Tapi kenapa mahluk manusia ditentukan oleh Allah lebih tinggi daripada Malaikat? Kenapa para mahluk suci itu harus sujud kepada Adam?
Tentulah karena manusia diberi tangan kemungkinan, diberi peluang untuk memperjuangkan diri menuju puncak kapasitasnya dihadapan Allah dibanding Malaikat. Apalagi dibanding iblis.
Salah satu nilai kemanusiaan yang sering kita anggap luhur adalah merendahkan diri. Betul-betul merendahkan diri. Kalau kita melakukan keburukan, kita bilang, “lho, saya kan bukan Malaikat!” Kita melakukan kelicikan atau kekejaman, dalam skala personal maupun sistemik, dan itu kita sebut manusiawi. Seringkali bahkan kita gagal memelihara standar kemanusiaan, terpeleset ke perilaku kebinatangan. Dan kita menghibur diri – “Toh saya bukan Malaikat”.
Padahal kita bisa lebih tinggi derajatnya dari Malaikat.
Padahal merendahkan diri tidaklah sama dengan tawadhu’ (rendah hati).
26 Ramadhan 1430H
Label:
26 Ramadhan 1430H
Selasa, 15 September 2009
SANG WAKTU
Ramadhan rasanya tinggal beberapa detik lagi. Senin nanti – atau minggu? – sudah Idul Fitri. Alangkah cepatnya. Sang waktu ini aneh. Terkadang begitu lambat dan memuakkan, di saat lain berlalu terlalu cepat dan menggemaskan.
Ternyata sang waktu tak bisa diukur oleh satuan ‘cepat’ atau ‘lambat’, sebab yang cepat dan lambat itu perasaan manusia. Dan perasaan kita itu ditentukan oleh apa yang kita lakukan, kemana kita melangkah, dan untuk apa kita menuju ke sana.
Kalau kita melakukan sesuatu yang menyenangkan, waktu jadi cepat. Kalau yang kita lakukan susah, waktu jadi lambat. Kalau kita melangkahi rakaat-rakaat tarawih, waktu lambat. Kalau kita nonton, waktu bukan main cepat. Kalau tujuan kita duniawi, waktu cepat. Kalau tujuan kita ukhrawi, waktu terasa memuakkan.
Itulah pertarungan antara jiwa melawan darah daging.
Sang waktu tidak cepat tidak lambat. Kitalah yang diberi kemerdekaan oleh Allah untuk memilih cepat atau lambat, sementara atau abadi, semu atau nyata.
Jadi kalau ramadhan terasa cepat bagi kita, Alhamdulillah, kita mungkin sudah semakin ukhrawi, semakin ‘Ilahiah’. Amien.
Karena memang demikianlah. Besok atau lusa kita akan mati. Begitu banyak hal pada kita yang akan berhenti dan sirna. Tapi karena shiratal mustaqim, tatkala nanti memasuki kubur, ada yang tak mati dari kita, yaitu amal. Amal mengabadikan kita.
Wallahualam…
25 Ramadhan 1430H
Ternyata sang waktu tak bisa diukur oleh satuan ‘cepat’ atau ‘lambat’, sebab yang cepat dan lambat itu perasaan manusia. Dan perasaan kita itu ditentukan oleh apa yang kita lakukan, kemana kita melangkah, dan untuk apa kita menuju ke sana.
Kalau kita melakukan sesuatu yang menyenangkan, waktu jadi cepat. Kalau yang kita lakukan susah, waktu jadi lambat. Kalau kita melangkahi rakaat-rakaat tarawih, waktu lambat. Kalau kita nonton, waktu bukan main cepat. Kalau tujuan kita duniawi, waktu cepat. Kalau tujuan kita ukhrawi, waktu terasa memuakkan.
Itulah pertarungan antara jiwa melawan darah daging.
Sang waktu tidak cepat tidak lambat. Kitalah yang diberi kemerdekaan oleh Allah untuk memilih cepat atau lambat, sementara atau abadi, semu atau nyata.
Jadi kalau ramadhan terasa cepat bagi kita, Alhamdulillah, kita mungkin sudah semakin ukhrawi, semakin ‘Ilahiah’. Amien.
Karena memang demikianlah. Besok atau lusa kita akan mati. Begitu banyak hal pada kita yang akan berhenti dan sirna. Tapi karena shiratal mustaqim, tatkala nanti memasuki kubur, ada yang tak mati dari kita, yaitu amal. Amal mengabadikan kita.
Wallahualam…
25 Ramadhan 1430H
Senin, 14 September 2009
TAHAJJUD CINTAKU
Mahaanggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan
Mahaagung ia yang mustahil menganugerahkan keburukan
Apakah yang menyelubungi kehidupan ini selain cahaya
Kegelapan hanyalah ketika taburan cahaya takditerima
Kecuali kesucian tidaklah Tuhan berikan kepada kita
Kotoran adalah kesucian yang hakikatnya tak dipelihara
Katakan kepadaku adakah neraka itu kufur dan durhaka
Sedang bagi keadilan hukum ia menyediakan dirinya
Ke mana pun memandang yang tampak ialah kebenaran
Kebatilan hanyalah kebenaran yang tak diberi ruang
Mahaanggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan
Suapi ia makanan agar tak lapar dan berwajah keburukan
Tuhan kekasihku tak mengajari apa pun kecuali cinta
Kebencian tak ada kecuali cinta kau lukai hatinya
24 Ramadhan 1430H / Emha Ainun Nadjib - 1988
Mahaagung ia yang mustahil menganugerahkan keburukan
Apakah yang menyelubungi kehidupan ini selain cahaya
Kegelapan hanyalah ketika taburan cahaya takditerima
Kecuali kesucian tidaklah Tuhan berikan kepada kita
Kotoran adalah kesucian yang hakikatnya tak dipelihara
Katakan kepadaku adakah neraka itu kufur dan durhaka
Sedang bagi keadilan hukum ia menyediakan dirinya
Ke mana pun memandang yang tampak ialah kebenaran
Kebatilan hanyalah kebenaran yang tak diberi ruang
Mahaanggun Tuhan yang menciptakan hanya kebaikan
Suapi ia makanan agar tak lapar dan berwajah keburukan
Tuhan kekasihku tak mengajari apa pun kecuali cinta
Kebencian tak ada kecuali cinta kau lukai hatinya
24 Ramadhan 1430H / Emha Ainun Nadjib - 1988
Label:
24 Ramadhan 1430H
Langganan:
Postingan (Atom)